PALANGKA RAYA | EnterKal – Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya masih menghadapi kendala berupa lahan kering, keterbatasan sumber air, dan sulitnya menjangkau titik api. Petugas gabungan mengandalkan sumur bor, suplai air dari armada satuan tugas, serta embung untuk mendukung upaya pemadaman.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, saat meninjau penanganan karhutla di Jalan Karanggan dan kawasan kompleks perkantoran Pemerintah Kota Palangka Raya, Senin malam (19/10/2026).
Peninjauan dilakukan untuk memantau kondisi kebakaran sekaligus memastikan petugas terus berupaya memadamkan api di tengah keterbatasan di lapangan.
Sumber air dan akses menuju titik api menjadi kendala
Fairid menyampaikan, kondisi lahan yang kering serta jauhnya titik api dari sumber air membuat proses pemadaman membutuhkan upaya ekstra. Ketersediaan air juga menjadi tantangan karena sejumlah sumber mulai mengering.
Menurutnya, kehadiran pemerintah kota di lokasi turut bertujuan memberikan dukungan moral kepada personel yang terus menangani kebakaran.
“Kami hadir untuk memberikan dukungan kepada petugas. Pemko Palangka Raya terus berupaya memberikan perhatian penuh dalam penanganan karhutla di lapangan,” ucapnya.
Petugas gunakan selang hingga 150 meter
Kepala Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet, menjelaskan bahwa medan yang sulit diakses menjadi tantangan dalam menjangkau dan memadamkan titik api.
Untuk memenuhi kebutuhan air, petugas mengandalkan sumur bor dan suplai dari armada satuan tugas. Embung juga dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif ketika titik kebakaran sulit dijangkau dari sumber utama.
“Dalam kondisi tertentu, petugas harus menyambungkan hingga lima rol selang pemadam untuk menjangkau lokasi kebakaran. Setiap rol selang memiliki panjang sekitar 30 meter, sehingga total selang yang digunakan dapat mencapai 150 meter menuju lokasi titik api,” jelasnya.
Panjang selang tersebut menunjukkan tantangan distribusi air menuju lokasi kebakaran, terutama ketika sumber air tidak berada dekat dengan titik api.
Pemadaman berlangsung dari pagi hingga malam
Balap menegaskan, personel terus melakukan pemadaman dari pagi hingga malam untuk mengendalikan kebakaran di wilayah Palangka Raya.
Upaya penanganan dilakukan secara berkelanjutan dengan menyesuaikan kondisi lapangan dan ketersediaan sumber daya pendukung.
Perkembangan luas area terbakar, jumlah titik api yang masih aktif, serta waktu yang dibutuhkan untuk mengendalikan kebakaran belum dirinci dalam keterangan tersebut. Informasi itu diperlukan untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai skala karhutla dan perkembangan penanganannya di Palangka Raya. (Red)





