JAKARTA | EnterKal – Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo, menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo Subianto menutup tahun 2025 dengan serangkaian capaian strategis yang memberi sinyal kuat arah kepemimpinan nasional ke depan. Di tengah tekanan ekonomi global, konflik geopolitik, dan perlambatan perdagangan dunia, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kepercayaan investor.
“Tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo menjadi fase penting konsolidasi nasional. Pemerintah tidak bermain aman, tetapi berani memilih kebijakan strategis untuk jangka panjang,” ujar Bamsoet di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Ia menyampaikan, dari sisi ekonomi makro Indonesia mencatat pertumbuhan sekitar 5,12 persen sepanjang 2025. Capaian tersebut dinilai solid di tengah kondisi global yang masih dibayangi inflasi tinggi dan pelemahan konsumsi di banyak negara. Stabilitas nilai tukar rupiah relatif terjaga, inflasi berada dalam kisaran target, dan daya beli masyarakat tetap bertahan berkat kombinasi kebijakan fiskal serta stimulus sosial yang terukur.
Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 itu menjelaskan, investasi menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Realisasi investasi pada semester pertama 2025 tercatat menembus Rp 942 triliun, meningkat lebih dari 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi tersebut tersebar di sektor industri pengolahan, energi, pertambangan hilirisasi, hingga infrastruktur dasar, serta menyerap lebih dari satu juta tenaga kerja.
“Angka ini mencerminkan kepercayaan dunia usaha terhadap kepastian kebijakan dan stabilitas politik nasional,” kata Bamsoet.
Di bidang fiskal, menurut Bamsoet, pemerintah menunjukkan disiplin anggaran dengan menjaga defisit tetap dalam batas aman. Belanja negara diarahkan ke sektor-sektor produktif, sementara program bantuan sosial difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan ini dinilai efektif meredam potensi gejolak sosial sekaligus menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia itu juga menyoroti percepatan agenda hilirisasi sumber daya alam. Sepanjang 2025, sejumlah proyek pengolahan mineral dan energi mulai beroperasi atau memasuki tahap konstruksi lanjutan. Dampaknya, nilai tambah komoditas nasional meningkat, ekspor produk olahan tumbuh, dan ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah perlahan berkurang.
Di sektor pangan, Bamsoet menilai pemerintah mencatat kemajuan signifikan. Produksi beras nasional meningkat, cadangan beras pemerintah berada pada level tertinggi sepanjang sejarah, serta harga pembelian gabah petani naik hingga Rp 6.500 per kilogram. Menurutnya, hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah menjadikan pangan sebagai isu keamanan nasional, bukan sekadar komoditas ekonomi.
Sementara di sektor energi, pemerintah mulai mendorong transisi yang dinilai lebih realistis dengan mengoptimalkan sumber daya domestik, memperkuat cadangan energi nasional, serta meningkatkan investasi pada energi baru dan terbarukan.
“Langkah ini penting agar Indonesia tidak mudah terombang-ambing oleh fluktuasi harga energi global,” jelasnya.
Pembangunan sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama pemerintahan Presiden Prabowo. Program Makan Bergizi Gratis terus digulirkan secara bertahap bagi anak sekolah dan kelompok rentan, disertai perluasan akses pemeriksaan kesehatan gratis serta penguatan layanan kesehatan primer.
Pada tataran global, Bamsoet menilai pemerintahan Presiden Prabowo tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang lebih tegas, memperkuat kerja sama pertahanan, dan menjaga stabilitas kawasan guna memastikan pembangunan nasional berjalan tanpa gangguan keamanan regional.
Meski demikian, Bamsoet mengingatkan bahwa berbagai capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak lengah. Ketimpangan ekonomi, pemerataan pembangunan antarwilayah, efektivitas birokrasi, serta transparansi data masih menjadi tantangan serius ke depan.
“Keberhasilan pemerintah di tahun pertama ini patut diapresiasi, tetapi harus terus dikawal. Konsistensi, transparansi, dan keberanian melakukan koreksi akan menentukan apakah fondasi yang dibangun pada 2025 benar-benar kokoh,” pungkas Bamsoet.







