EnterKal — Harga saham kelompok bank berkapitalisasi besar (big banks) masih mengalami tekanan dalam perdagangan pekan ini, meskipun kinerja laba hingga Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan positif.
Sejumlah bank besar seperti Bank Central Asia, Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Mandiri telah merilis kinerja keuangan awal tahun. Sementara Bank Negara Indonesia belum mengumumkan laporan terbarunya.
Laba Tumbuh, Tapi Saham Tetap Tertekan
Secara rinci, BBCA mencatat laba sebesar Rp9,2 triliun hingga Februari 2026 atau tumbuh 2,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Sementara itu, BBRI membukukan laba Rp7,73 triliun atau naik 17,05 persen (yoy), dan BMRI mencatat laba Rp8,9 triliun dengan pertumbuhan 16,7 persen (yoy).
Meski mencatatkan pertumbuhan laba, saham-saham big banks justru kompak melemah dalam sepekan terakhir.
Pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), saham BBCA berada di level Rp6.700 atau turun 2,55 persen. Disusul BBNI di Rp3.900 turun 2,50 persen, BBRI di Rp3.420 melemah 2,01 persen, serta BMRI di Rp4.760 turun 1,65 persen.
Dipengaruhi Sentimen Makro
Head Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi menilai kinerja laba yang positif seharusnya dapat menjadi penahan (buffer) koreksi harga saham dalam jangka pendek.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pergerakan saham saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal.
“Pergerakan saham masih akan lebih didominasi oleh sentimen makro, seperti arah suku bunga The Fed, nilai tukar rupiah, dan arus dana asing,” ujar Wafi.
Prospek Jangka Panjang Masih Menarik
Wafi menilai fundamental bank-bank besar tetap kuat, sehingga masih menarik untuk investasi jangka panjang.Menurutnya, Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri cocok bagi investor yang mengincar pertumbuhan (growth), seiring ekspansi kredit yang agresif dan perbaikan kualitas aset.
Sementara itu, Bank Central Asia dinilai tetap menjadi pilihan “safe haven” di sektor perbankan karena stabilitas kinerjanya, meskipun pertumbuhan persentasenya relatif lebih moderat.
Dengan kondisi tersebut, investor disarankan mencermati perkembangan kinerja perbankan serta dinamika ekonomi global sebelum mengambil keputusan investasi. (Red)












