Palangka Raya | EnterKal – Di sebuah rumah produksi sederhana di Kota Palangka Raya, para perajin masih setia menjaga warisan budaya Kalimantan Tengah melalui kerajinan getah nyatu yang telah diwariskan lintas generasi.
Aroma khas getah nyatu berpadu dengan warna-warna identik budaya Dayak memenuhi ruang kerja Rumah Produksi Getah Nyatu Pandji di Jalan Karandang IV, Palangka Raya, Kamis (7/5/2026). Di tempat itu, para perajin terlihat tekun menyelesaikan berbagai pesanan kerajinan berbahan dasar getah pohon nyatu.
Pemilik rumah produksi, Surtiati (61), mengatakan dirinya telah menekuni kerajinan tersebut sejak 1997 atau sekitar 29 tahun terakhir.
Bersama para perajin lainnya, ia mengolah getah nyatu menjadi beragam karya seni seperti miniatur rumah betang, perahu naga, tameng khas Dayak, hingga replika kantong semar.
Dari Suvenir Hingga Karya Bernilai Ratusan Juta
Menurut Surtiati, kerajinan getah nyatu kini tidak hanya dipandang sebagai produk budaya, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif masyarakat lokal.
Harga produk yang dihasilkan pun bervariasi, mulai dari gantungan kunci seharga Rp35 ribu hingga karya seni berukuran besar bernilai ratusan juta rupiah.
Salah satu produk dengan nilai tertinggi adalah replika Burung Garuda berukuran 200 x 180 sentimeter yang dibanderol hingga Rp150 juta.
Permintaan pasar terhadap kerajinan tersebut juga disebut terus meningkat. Produk hasil karya Rumah Produksi Pandji kini dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Sulawesi, hingga Sumatera Barat.
Bersiap Ekspor Perdana
Tahun 2026 menjadi momentum baru bagi pengembangan kerajinan getah nyatu di Palangka Raya. Untuk pertama kalinya, produk tersebut direncanakan menembus pasar internasional melalui ekspor perdana ke Selandia Baru.
“Ekspor ini menjadi harapan baru bagi kami untuk memperkenalkan budaya Dayak ke kancah global, sekaligus memperkuat posisi produk lokal di pasar internasional,” ujar Surtiati.
Meski industri modern terus berkembang, para perajin di Rumah Produksi Pandji tetap mempertahankan proses produksi manual yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi.
Bagi para perajin, setiap karya yang dihasilkan bukan sekadar produk kerajinan bernilai ekonomi, tetapi juga membawa cerita tentang tradisi, alam, dan identitas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. (Red)





