spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Top EnterKal

Related Posts

SBY Ingatkan Potensi Perang Dunia ke-3, Soroti Pelanggaran Hukum Internasional

Tokyo | EnterKal — Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan dunia mengenai potensi terjadinya Perang Dunia ke-3 akibat meningkatnya pelanggaran hukum internasional yang dilakukan sejumlah negara besar.

Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat berbicara di hadapan perwakilan tokoh dunia dalam Tokyo Conference 2026, Kamis (12/3/2026).

Menurut SBY, saat ini banyak negara tidak lagi mematuhi hukum internasional sehingga menciptakan ketidakpastian dalam tatanan global serta berpotensi mengancam perdamaian dunia. 

“Hukum internasional sudah tidak lagi dipatuhi bahkan diabaikan. Padahal power atau kekuasaan itu perlu dikontrol. Alat untuk mengontrol power adalah dengan power yang lainnya. Kita semua tahu, kekuasaan itu cenderung korup atau disalahgunakan,” ujar SBY.

SBY menilai berbagai pelanggaran tersebut telah membuat situasi geopolitik dunia menjadi semakin tidak stabil dan berpotensi memicu polarisasi antarnegara.

Soroti Konflik Global

Dalam kesempatan itu, SBY mencontohkan sejumlah konflik yang dinilai mencerminkan pelanggaran hukum internasional, di antaranya perang antara Rusia dan Ukraina, invasi Amerika Serikat terhadap Venezuela, serta serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Ia juga menyinggung serangan balasan Iran terhadap sejumlah negara Teluk di Timur Tengah yang menurutnya turut melanggar hukum internasional.

SBY menegaskan bahwa situasi geopolitik global saat ini semakin tidak menentu dan berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.

“Kondisi geopolitik saat ini semakin tidak stabil dan berpotensi menimbulkan polarisasi yang dapat mengarah pada ancaman terjadinya Perang Dunia ke-3,” ujarnya. 

Ajak Dunia Kembali Mengutamakan Kepentingan Bersama

Dalam forum tersebut, SBY juga mengajak negara-negara di dunia untuk kembali duduk bersama dan mengedepankan kepentingan internasional demi menjaga stabilitas dan perdamaian global.

Ia menilai kerja sama multilateral sangat penting untuk menghindari konflik yang dapat merugikan umat manusia secara luas.

SBY diundang dalam konferensi tersebut sebagai salah satu tokoh yang mewakili pemimpin dari kawasan Asia karena dinilai memiliki pengalaman dan gagasan terkait demokrasi, geopolitik, dan upaya menjaga perdamaian dunia.

Selain SBY, Indonesia juga diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto serta mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang hadir dalam sesi berbeda pada konferensi tersebut. (Red)

spot_imgspot_img
spot_img
spot_img

Popular Articles