Palangka Raya | EnterKal — Cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini dipicu oleh suhu udara yang tinggi serta minimnya curah hujan sejak awal Januari 2026.
Sejumlah warga mengaku merasakan dampak langsung dari kondisi cuaca tersebut. Warga Palangka Raya Lalu Ahmad Supran menyebutkan panas terik terasa semakin menyengat dalam beberapa pekan terakhir.
“Sebagai warga Kota Palangka Raya, saya merasakan panas yang cukup ekstrem akhir-akhir ini. Ditambah belum ada hujan sejak awal Januari, dan diperparah dengan kejadian kebakaran hutan di sekitar kota,” ujar Supran, Kamis (22/1/2026).
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena dapat memicu kebakaran di tengah kondisi cuaca panas ekstrem.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Di samping itu, dengan cuaca panas seperti ini masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kesehatan,” ujarnya.
Ia mengingatkan warga untuk membatasi aktivitas di bawah terik matahari dalam waktu lama, karena dapat berdampak pada kondisi fisik dan kesehatan. BPBD juga mengajak masyarakat berperan aktif dalam pencegahan karhutla dengan segera melaporkan kejadian darurat.
“Masyarakat dapat melaporkan kejadian kebakaran atau kondisi darurat melalui layanan terpadu 112 agar dapat segera ditangani,” katanya.
Pemerintah daerah berharap kolaborasi antara aparat dan masyarakat dapat menekan potensi karhutla selama periode cuaca panas ekstrem ini, sekaligus menjaga keselamatan dan kesehatan warga Palangka Raya.







