Jakarta | EnterKal – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memaparkan kesiapan teknologi pengolahan sampah yang dikembangkan di dalam negeri untuk menjawab persoalan penumpukan sampah di berbagai daerah.
Hal tersebut disampaikan Arif usai menghadiri Penandatanganan Kesepakatan Pemerintah Daerah dan Danantara untuk Percepatan Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), Senin (11/5/2026).
Menurutnya, BRIN saat ini telah menyiapkan empat level teknologi pengolahan sampah yang dapat diterapkan mulai dari skala rumah tangga hingga perkotaan.
“BRIN menyediakan 4 level teknologi sampah, dari rumah tangga, desa, kecamatan, hingga perkotaan,” kata Arif.
Komposter hingga Pengubah Plastik Jadi Solar
Arif menjelaskan, pada level rumah tangga BRIN telah mengembangkan teknologi Lahsamor Komposter untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.
Alat tersebut menggunakan sistem putar dan disebut dapat dimiliki masyarakat dengan harga sekitar Rp1 juta per unit.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan metode Pirolisis Faspol yang mampu mengubah limbah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar solar.
“Ini bisa mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar untuk nelayan. Dan saya sudah mencoba. Dan sekarang banyak nelayan sudah menggunakan itu,” ujarnya.
Menurut Arif, bahan bakar hasil pengolahan tersebut telah melalui proses standarisasi oleh LEMIGAS dan dapat dijual sekitar Rp10 ribu per liter.
BRIN Kembangkan Teknologi PSEL
Selain teknologi skala kecil, BRIN juga mengembangkan teknologi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Saat ini, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan sekitar 50 ton sampah per hari dan tengah dikembangkan agar mampu mengolah hingga 100 ton per hari.
Arif mengakui kapasitas tersebut masih berada di bawah target pemerintah yang menginginkan pengolahan mencapai 1.000 ton per hari.
Meski demikian, ia menilai teknologi yang dikembangkan BRIN tetap relevan untuk diterapkan di daerah dengan volume sampah yang tidak terlalu besar.
“Kan pemerintah maunya 1.000 ton per hari, nah sekarang 50 ton per hari, kita ingin coba perbesar menjadi 100 ton per hari. Kan itu ada daerah yang kecil nggak terlalu besar sebenarnya,” jelasnya.
Darurat Sampah Jadi Tantangan Nasional
Indonesia saat ini menghadapi persoalan serius terkait pengelolaan sampah.
Penumpukan sampah terjadi di sejumlah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) seperti Bantar Gebang, Cipecang, hingga Burangkeng.
Bahkan, beberapa waktu lalu longsor sampah sempat terjadi di kawasan TPA Bantar Gebang yang kembali memunculkan perhatian terhadap pentingnya percepatan teknologi pengolahan sampah nasional. (Red)





