spot_img

Top 5 EnterKal

spot_img
spot_img

Related Posts

Manjawet Uwei di FBIM 2026, Anyaman Rotan Dayak Dirawat Generasi Baru

Tradisi anyaman rotan kembali dihidupkan melalui lomba budaya yang mempertemukan kreativitas, filosofi, dan identitas masyarakat Dayak

Palangka Raya | EnterKal – Jemari para peserta bergerak lincah menyusun helaian rotan satu demi satu. Sesekali mereka memperhatikan pola dan memastikan anyaman tersusun rapi di tengah suasana Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026.

Di Halaman Belakang GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Selasa (19/5/2026), tradisi Manjawet Uwei atau menganyam rotan kembali dihadirkan sebagai ruang pelestarian budaya Dayak yang diwariskan lintas generasi.

Berbeda dari kemeriahan tari dan musik tradisional, kegiatan tersebut menghadirkan suasana yang lebih tenang. Selama hampir delapan jam, para peserta terlihat tekun mengolah rotan menjadi karya seni bernilai budaya.

Ajang tersebut bukan sekadar perlombaan dalam rangkaian FBIM 2026 yang berlangsung pada 17–23 Mei, tetapi juga menjadi upaya nyata menjaga eksistensi kearifan lokal masyarakat Dayak di tengah perkembangan zaman.

Angkat Identitas Budaya Daerah

Sebanyak sembilan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah mengikuti lomba Manjawet Uwei.

Masing-masing peserta membawa ciri khas daerah asal melalui motif dan pola anyaman yang ditampilkan.

Koordinator Lomba Manjawet Uwei, Maria Doya Aden mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan budaya Dayak kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya daerah.

“Manjawet Uwei ini kami hadirkan agar generasi muda mengenal budaya dan kearifan lokal masyarakat Dayak. Kami ingin mereka mengetahui bahwa budaya ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari identitas daerah,” ujarnya.

Motif Anyaman Sarat Filosofi

Mengusung tema “Pesona Kalimantan Tengah”, lomba tersebut memberikan kebebasan bagi peserta menampilkan kreativitas melalui motif dan bentuk anyaman.

Panitia hanya menyediakan bahan dasar berupa uwei atau rotan, sementara desain dan makna karya sepenuhnya ditentukan peserta.

Di balik pola anyaman yang tersusun rapi, tersimpan filosofi yang merepresentasikan identitas budaya masing-masing daerah.

Perpaduan warna hitam dengan warna alami rotan yang mendominasi karya Manjawet Uwei disebut mencerminkan kesederhanaan, keseimbangan, serta kedekatan masyarakat Dayak dengan alam.

Dari Tradisi Menjadi Produk Kreatif

Bagi masyarakat Dayak, anyaman rotan tidak hanya digunakan sebagai perlengkapan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai budaya dan ekonomi.

Seiring perkembangan zaman, karya anyaman rotan kini berkembang menjadi berbagai produk kreatif seperti tas, sepatu, hingga cendera mata bernilai jual.

Melalui ajang seperti FBIM 2026, tradisi Manjawet Uwei tidak sekadar dipertontonkan, tetapi terus dirawat agar tetap hidup bersama generasi baru.

Di setiap helai rotan yang teranyam, tersimpan cerita tentang identitas, ketekunan, dan upaya menjaga budaya agar tidak hilang ditelan waktu. (Red)

Bahlil Tekankan Soliditas Kader dalam Musda XI Golkar Kalteng

“Musda menjadi forum resmi untuk menentukan arah kebijakan dan keputusan strategis partai di tingkat daerah”

GenPI Palangka Raya Gelar Rawa Fest Ecotourism Angkat Potensi Wisata Rawa Gambut

“Rawa Fest Ecotourism kami harapkan jadi pemantik untuk masyarakat agar lebih terlibat dalam menghidupkan pariwisata. Kami ingin wisata lokal bisa dikenal di tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional"

Wakil Wali Kota Achmad Zaini Ajak Teladani Nilai Perjuangan Pahlawan Bangsa

“Para pahlawan bukan hanya nama di batu nisan, tetapi cahaya yang menerangi jalan kita hingga hari ini. Mereka berjuang bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk masa depan bangsa"

Pigai Sebut Penolak MBG dan Koperasi Merah Putih “Menentang HAM”, Pernyataan Picu Perdebatan

Pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menjadi sorotan setelah menyebut pihak yang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai “orang yang menentang HAM”. Ucapan itu memicu perdebatan di ruang publik, terutama terkait batas antara kritik kebijakan dan pelanggaran hak asasi manusia.

Palangka Raya Perkuat Ketahanan Daerah Lewat Kajian Risiko Bencana 2026

Penyusunan Kajian Risiko Bencana dan pengukuran Indeks Ketahanan Daerah menjadi langkah strategis Pemerintah Kota Palangka Raya dalam memperkuat perencanaan pembangunan berbasis mitigasi risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai ancaman bencana.

Peringatan HKN ke-61, Dinkes Palangka Raya Ajak Warga Perkuat Deteksi Dini dan Manfaatkan Faskes Terdekat

“Rangkaian HKN ke-61 di lingkup Kota Palangka Raya akan menggelar berbagai kegiatan. Termasuk momen pentingnya deteksi dini penyakit dan pemanfaatan fasilitas faskes”

Seruyan Tuan Rumah Musypimwil Muhammadiyah Kalteng 2025

“Kami mendukung sepenuhnya kegiatan musyawarah ini dan berharap dapat memberikan hasil maksimal, terutama dalam merumuskan program-program ke depan”

Pemkot Palangka Raya Siap Jadi Daerah Percontohan Transformasi Digital Sosial

Perluasan digitalisasi perlindungan sosial diarahkan untuk memperkuat integrasi data, meningkatkan akuntabilitas penyaluran bantuan, dan memastikan program kesejahteraan masyarakat berjalan lebih tepat sasaran.

Ekonomi Tumbuh 5,39%, Airlangga Dorong Digital dan AI Jadi Motor Baru

Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,39 persen (year on year/yoy) pada triwulan IV-2025.

Bupati Pulang Pisau Tinjau TPA dan Pelayanan Publik

“Kita ingin memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal dan pengelolaan sampah dilaksanakan sesuai ketentuan untuk mewujudkan tata kelola daerah yang baik"

Popular Articles