Jakarta | EnterKal – Anggota DPR RI, Bambang Soesatyo, mengapresiasi terbentuknya Serikat Wartawan Senior Indonesia (SW60+) sebagai langkah strategis di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan derasnya arus disinformasi di ruang digital.
Menurut Bamsoet, deklarasi SW60+ hadir pada momentum penting ketika Indonesia menghadapi tantangan serius berupa fragmentasi sosial, polarisasi politik, serta maraknya hoaks yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional.
“Kita sedang menghadapi situasi di mana ruang publik dipenuhi informasi yang tidak semuanya benar. Polarisasi sosial semakin tajam, bahkan berdampak pada hubungan antarwarga. Dalam kondisi ini, peran wartawan senior sangat penting untuk menjaga arah dan akal sehat publik,” ujarnya usai menghadiri deklarasi SW60+ di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Hoaks dan Polarisasi Menguat
Bamsoet menilai, dalam beberapa tahun terakhir, polarisasi sosial semakin terasa, baik di ruang nyata maupun digital. Gelombang demonstrasi besar sepanjang 2025 serta tingginya interaksi negatif di media sosial menjadi indikator menguatnya perpecahan di tengah masyarakat.
Ia juga menyoroti maraknya hoaks, propaganda, dan manipulasi narasi yang dinilai memperkeruh situasi.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa perang informasi sedang terjadi. Hoaks, propaganda, dan manipulasi narasi menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa,” tegasnya.
Peran Wartawan Senior
Dalam situasi tersebut, Bamsoet menekankan pentingnya peran wartawan senior sebagai penjernih informasi sekaligus penyeimbang opini publik.
“Wartawan senior harus mengambil peran sebagai penjernih sekaligus penyeimbang,” katanya.
Ia mengingatkan, keberadaan buzzer sebagai bagian dari ekosistem informasi turut memengaruhi cara masyarakat memahami isu publik.
Media dan Politik Identitas
Bamsoet juga menyoroti politik identitas sebagai tantangan besar dalam menjaga persatuan bangsa. Eksploitasi isu agama, etnis, dan kelompok sosial dinilai berpotensi mempersempit ruang dialog serta memicu konflik horizontal.
Menurutnya, media memiliki posisi strategis, apakah akan menjadi pemicu konflik atau justru menjadi peredam.
“Pers harus berdiri di garis depan melawan politik identitas dan provokasi. Media tidak boleh terjebak dalam framing yang memperuncing perbedaan, tetapi harus mendorong persatuan,” pungkasnya.
Dihadiri Sejumlah Tokoh
Deklarasi SW60+ turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Meutya Hafid, Komaruddin Hidayat, Anies Baswedan, Arsjad Rasjid, serta sejumlah wartawan senior dan pemangku kepentingan lainnya. (Red)







