Jakarta | EnterKal – World Gold Council mencatat permintaan emas global meningkat 2 persen secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi 1.231 ton pada kuartal I 2026.
Kenaikan tersebut didorong oleh kuatnya permintaan investasi, pembelian bank sentral, hingga tingginya minat masyarakat terhadap emas batangan dan koin di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Head of Asia Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan, mengatakan peningkatan permintaan terjadi hampir di seluruh kawasan dan lintas segmen emas.
“Saya mau menekankan juga bahwa permintaan yang naik sebesar 2% menandakan kenaikan dalam volume emas, tapi untuk nilai emas itu sendiri ternyata meningkatnya lebih dari 70%. Oleh karena itu ini tidak lepas dari kinerja harga emas yang sangat baik,” kata Shaokai dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026).
Bank Sentral Masih Agresif Akumulasi Emas
Dari sisi institusi, pembelian emas oleh bank sentral global tercatat mencapai 244 ton pada kuartal I 2026 atau naik 3 persen yoy.
Bank Indonesia termasuk salah satu bank sentral yang melakukan pembelian emas dengan volume sekitar dua ton.
Meski terdapat sejumlah bank sentral yang melepas cadangan emas, seperti Turkiye untuk menjaga stabilitas mata uang dan Rusia untuk mendukung pembiayaan perang dengan Ukraina, secara umum tren global masih menunjukkan fase akumulasi.
“Sebagian besar bank sentral di dunia masih pada fase akumulasi,” ujar Shaokai.
Permintaan Investasi dan Emas Batangan Menguat
World Gold Council mencatat sektor investasi tetap menjadi penyumbang permintaan terbesar meski secara volume mengalami sedikit penurunan.
Permintaan investasi emas tercatat turun 5 persen yoy menjadi 536 ton. Namun secara nilai justru mencapai 84 miliar dolar AS seiring tingginya harga emas dunia.
Selain itu, permintaan emas batangan dan koin di Indonesia meningkat signifikan.
Menurut Shaokai, permintaan emas batangan dan koin di Indonesia naik 47 persen yoy atau setara 23,6 ton, menjadikannya salah satu kuartal terbaik bagi pasar emas domestik.
Kenaikan serupa juga terjadi di China dan India. Permintaan emas di China tercatat naik 67 persen yoy menjadi 207 ton, sementara India meningkat 34 persen yoy menjadi 62 ton.
“Secara global kenaikan ini mencapai 42% yoy atau setara 474 ton,” terang Shaokai.
Permintaan Perhiasan Turun karena Harga Tinggi
Di sisi lain, permintaan emas untuk sektor perhiasan mengalami penurunan volume akibat tingginya harga logam mulia.
World Gold Council mencatat permintaan perhiasan turun 23 persen yoy menjadi 299,7 ton pada kuartal I 2026.
Meski demikian, secara nilai sektor tersebut tetap mengalami kenaikan hingga 31 persen yoy.
“Secara umum konsumen masih meminati perhiasan emas tetapi daya beli mereka terhalang oleh harga emas yang tinggi,” kata Shaokai.
Produksi Emas Indonesia Naik 19 Persen
Dari sisi suplai, pasokan emas global meningkat 2 persen yoy menjadi 1.231 ton.
Pasokan tersebut berasal dari produksi tambang sebesar 885 ton, emas daur ulang sebanyak 366 ton, serta aktivitas de-hedging sebesar 10,4 ton.
Indonesia sendiri tercatat mengalami kenaikan produksi emas sebesar 19 persen, terutama ditopang kontribusi tambang Batu Hijau.
“Angka ini cukup signifikan dan hal ini terutama diperoleh dari kontribusi tambang Batu Hijau,” jelas Shaokai.
AI Dorong Permintaan Emas Teknologi
Selain investasi dan perhiasan, World Gold Council juga mencatat pertumbuhan permintaan emas dari sektor teknologi.
Pada kuartal I 2026, permintaan emas untuk sektor teknologi naik 1 persen yoy menjadi 82 ton.
Menurut Shaokai, peningkatan tersebut salah satunya dipicu pertumbuhan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang membutuhkan emas dalam produksi microchip dan komponen elektronik.
“Karena memang emas juga digunakan dalam microchip, itu semua tentunya turut mendukung resiliensi dari sektor ini,” pungkasnya. (Red)





