BEKASI | EnterKal – PT PLN Nusantara Power (PLN NP) resmi mengoperasikan Hydrogen Refueling Station (HRS) Merah Putih 3.0 di kompleks PLTGU Muara Tawar, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (13/8/2026). Peresmian fasilitas ini menjadi langkah berlanjut perseroan dalam memperkuat infrastruktur dan ekosistem hidrogen nasional.
Fasilitas pengisian hidrogen tersebut merupakan generasi ketiga yang dikembangkan perseroan secara bertahap, setelah sebelumnya mengoperasikan HRS Merah Putih 1.0 dan 2.0. Kehadiran HRS 3.0 difungsikan untuk menguji keandalan teknologi sekaligus memperluas pemanfaatan hidrogen dari sektor transportasi menuju kawasan industri dan ketenagakerjaan.
Pengembangan hidrogen menjadi kunci krusial dalam mengakselerasi transisi energi bersih di Indonesia. Ketersediaan infrastruktur pengisian serta kesiapan ekosistem dari hulu ke hilir menentukan seberapa cepat komersialisasi hidrogen dapat menekan ketergantungan nasional pada bahan bakar fosil.
Tantangan Pembentukan Ekosistem Hidrogen
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menjelaskan bahwa tantangan utama penyerapan hidrogen di dalam negeri terletak pada pembentukan ekosistem yang terintegrasi. Kesiapan teknologi, infrastruktur, dan pasar perlu dibangun secara bersamaan agar nilai keekonomiannya tercapai.
“Ini merupakan HRS kita yang ketiga. Nanti akan ada lagi HRS berikutnya,” ujar Ruly Firmansyah saat peresmian di Bekasi, Kamis (13/8/2026).
Ia menilai proses pembentukan pasar dan rantai pasok hidrogen membutuhkan waktu bertahap, mirip dengan fase perkembangan ekosistem kelistrikan nasional pada masa awal pengembangannya.
“Kami berharap dalam lima sampai 10 tahun ke depan ekosistemnya akan semakin menarik,” kata Ruly.
Kajian Kawasan Industri Hidrogen 15 GW di Papua
Di luar pengembangan HRS di Pulau Jawa, PLN NP bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta pemerintah tengah memetakan potensi energi hidrogen skala raksasa di kawasan Mamberamo, Papua. Wilayah tersebut diperkirakan menyimpan kapasitas energi mencapai 10 hingga 15 gigawatt (GW).
Potensi besar di Mamberamo ini dirancang sebagai pusat kawasan industri berbasis hidrogen. Selain untuk menyokong kebutuhan industri domestik, kelebihan produksi hidrogen dari kawasan tersebut diproyeksikan untuk komoditas ekspor.
“PLN bersama pemerintah sedang merancang untuk membuat industri di sana, industri yang menggunakan hidrogen sebagai bahan utama. Kalau nanti berlebih, bisa menjadi produksi ekspor dari Indonesia,” jelas Ruly.
Menuju Tahap Komersialisasi dan Efisiensi Biaya
Prospek bisnis hidrogen di masa depan dinilai sangat menjanjikan seiring dengan dorongan global terhadap penurunan emisi karbon. Namun, percepatan komersialisasi hidrogen sangat bergantung pada inovasi teknologi yang mampu menekan biaya produksi agar lebih efisien dan terjangkau.
“Bisnis ke depan hidrogen itu bagus, cerah. Tinggal menunggu teknologi yang membuat biaya produksi hidrogen itu komersial,” tutur Ruly.
Selain efisiensi biaya, peningkatan standar keselamatan (safety) menjadi fokus utama sebelum pemanfaatan hidrogen diterapkan secara masif di sektor industri, transportasi, maupun pembangkitan energi. PLN NP berkomitmen melanjutkan rangkaian uji coba teknologi untuk memastikan transisi energi berjalan aman dan berkelanjutan. (Red)





