Palangka Raya | EnterKal – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran bersama jajaran Pemprov Kalteng, TNI/Polri, ASN, organisasi kemasyarakatan Islam, tokoh agama dan masyarakat menggelar Salat Istisqo serta doa bersama di Bundaran Talawang, Palangka Raya, Minggu (23/8/2026).
Salat Istisqo digelar di tengah kemarau yang disebut telah memicu kekeringan dan meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah.
Kemarau Berdampak pada Lingkungan dan Masyarakat
Agustiar mengatakan musim kemarau yang berlangsung cukup panjang telah menimbulkan sejumlah persoalan, mulai dari kekeringan hingga meningkatnya ancaman karhutla.
“Kemarau ini telah memicu terjadinya kekeringan serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan yang mengancam kesehatan, lingkungan, serta roda perekonomian masyarakat kita,” tutur Gubernur.
Menurut Agustiar, pemerintah bersama unsur Forkopimda, TNI/Polri, relawan dan berbagai elemen masyarakat telah melakukan sejumlah langkah untuk menghadapi dampak musim kemarau.
“Pemerintah telah menyiagakan personel, memadamkan titik-titik api melalui darat dan udara, serta melaksanakan operasi modifikasi cuaca,” jelasnya.
Namun, upaya penanganan tersebut dinilai perlu diiringi ikhtiar batin melalui Salat Istisqo dan doa bersama.
Salat Istisqo Jadi Ikhtiar Batin
Agustiar mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk bermuhasabah, mengoreksi diri, bertaubat, serta memohon pertolongan Allah SWT di tengah kondisi kemarau.
“Sebagai makhluk yang lemah di hadapan Sang Pencipta, segala ikhtiar fisik tersebut harus kita sempurnakan dengan ikhtiar batiniah, yaitu berserah diri dan memohon pertolongan Allah SWT,” ungkapnya.
Salat Istisqo dan doa bersama tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat, termasuk pemerintah daerah, TNI/Polri, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan Islam dan masyarakat.
Warga Diminta Tidak Bakar Lahan dan Hemat Air
Selain mengajak masyarakat berdoa, Agustiar kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan selama musim kemarau.
Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menggunakan persediaan air bersih secara bijak dan efisien.
Gubernur juga mengimbau masyarakat menjaga kesehatan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk dan menggunakan masker.
Imbauan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadapi dampak kemarau yang tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air, tetapi juga risiko karhutla dan kondisi kesehatan masyarakat.
Agustiar turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, Forkopimda, TNI/Polri, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat adat, relawan dan seluruh elemen yang terlibat dalam penanganan dampak musim kemarau.
“Semoga kebersamaan dan ketulusan doa yang kita panjatkan hari ini diijabah oleh Allah SWT, dan Kalimantan Tengah segera mendapatkan hujan yang membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Kalimantan Tengah Edy Pratowo, unsur Forkopimda, Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini, kepala perangkat daerah, para ulama dan tokoh agama, serta masyarakat Kalimantan Tengah. (Red)





