Jakarta | EnterKal – Di balik kemeriahan Kirab Bendera Pusaka dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026), terdapat kisah para personel yang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Mereka membawa simbol-simbol penting kemerdekaan sekaligus memastikan setiap rangkaian kirab berlangsung sesuai peran masing-masing.
Salah satunya Bianca Alessia Christabella Lantang, Purna Paskibraka asal Sulawesi Utara yang dipercaya membawa teks Proklamasi dalam prosesi penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih.
Membawa Teks Proklamasi dengan Penuh Tanggung Jawab
Bagi Bianca, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang membahagiakan sekaligus penuh tanggung jawab. Membawa teks Proklamasi tidak dipandangnya sekadar sebagai kehormatan, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan keseriusan.
“Tentunya sangat senang dan bersyukur karena ini juga merupakan tugas yang menurut saya, tugas yang harus penuh dengan tanggung jawab dan keseriusan,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Nindya Eltsani Fawwaz, Purna Paskibraka 2025 asal Jambi. Dalam kirab dari Istana Merdeka menuju Monas, Nindya dipercaya membawa duplikat Bendera Pusaka.
Tugas tersebut menuntut konsentrasi sepanjang perjalanan. Ia harus memastikan bendera tetap terjaga dalam berbagai kondisi selama kirab berlangsung.
“Tentunya rasanya juga sangat deg-degan, karena kita harus menjaga bendera itu biar nggak jatuh atau nggak kena angin atau terlipat gitu, tapi harus tetap tenang dan tetap tersenyum dalam membawa bendera tersebut,” ungkapnya.
120 Kuda Disiapkan untuk Kirab
Kemeriahan kirab juga didukung pasukan berkuda. Kolonel Taufik Dwinova, Komandan Kavaleri sekaligus pemimpin pasukan berkuda, mengatakan sekitar 120 ekor kuda dilibatkan dalam kirab pagi dan sore.
Persiapan dilakukan jauh-jauh hari hingga berbulan-bulan. Formasi pasukan juga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan momentum kemerdekaan.
Kelompok 17 melambangkan tanggal kemerdekaan, kelompok 8 mewakili bulan Agustus, sedangkan kelompok 81 menjadi simbol HUT ke-81 Republik Indonesia.
“Harapannya dengan kita melakukan persiapan dengan baik, apa yang akan ditampilkan di acara ini kepada masyarakat juga tentunya sebagai sebuah suguhan yang terbaik yang bisa menghibur warga masyarakat dan memberikan kebanggaan tersendiri bagi seluruh warga Indonesia,” ucapnya.
45 Motoris Bawa Kebanggaan dan Tanggung Jawab
Selain pasukan berkuda, sebanyak 45 pasukan motoris turut ambil bagian dalam kirab. Pasukan tersebut terdiri atas 15 personel wanita TNI dan 30 personel laki-laki dengan formasi paruh lembing.
Kapten CPM (K) Vikita Putri, S. Tr. Han dipercaya memimpin pasukan tersebut. Baginya, tugas itu menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI.
“Perasaan saya terharu dan bangga akan tanggung jawab pada tahun ini saya bisa menjadi Danki motoris dalam rangkaian HUT RI ke-81,” ujarnya.
Di balik tugasnya memimpin pasukan, Vikita juga membawa dukungan keluarganya. Ia secara khusus menyampaikan pesan kepada kedua anaknya, El dan Al, yang disebutnya menjadi sumber semangat dalam menjalankan tugas.
“Pesan buat anakku tersayang, El dan Al, kamu harus bangga sama ibu karena ibu bisa di titik ini, bisa di hari ini dengan doa kalian. Dan ibu mencurahkan semua tenaga ibu hari ini buat jadi kebanggaan kalian,” tuturnya.
Kirab di Balik Parade dan Kemewahan
Kirab Bendera Pusaka tidak hanya menghadirkan kereta kencana, pasukan berkuda, motoris, dan busana Nusantara. Di balik parade tersebut terdapat proses panjang berupa latihan, disiplin, persiapan, serta tanggung jawab personel yang menjalankan tugas.
Bagi mereka yang terlibat, setiap simbol yang dibawa dalam kirab memiliki makna yang harus dijaga. Dari teks Proklamasi hingga Bendera Pusaka, seluruhnya menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang membawa pesan sejarah dan kebanggaan nasional. (Sum-Red)





