EnterKal – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sistem pembangkit listrik hybrid yang menggabungkan tenaga surya dan angin melalui inovasi PV-Wind Turbin. Teknologi yang digagas Guru Besar Departemen Teknik Fisika ITS, Prof. Dr. Ir. Imam Abadi, S.T., M.T., IPM tersebut dirancang sebagai alternatif energi sekaligus untuk menjawab keterbatasan akses listrik di kawasan terpencil.
PV-Wind Turbin memanfaatkan potensi sinar matahari dan angin yang tersedia di Indonesia sepanjang tahun. Sistem tersebut dirancang agar kedua sumber energi dapat bekerja saling melengkapi dalam menghasilkan listrik.
“Indonesia kaya akan ladang angin dan sinar matahari yang konsisten sepanjang tahun, sehingga kombinasi kedua potensi alami inilah yang kami pilih sebagai penyokong utama sistem energi terbarukan ini,” kata Prof Imam, Selasa (11/8/2026).
Menggabungkan Tenaga Surya dan Angin
Pada sistem tersebut, panel surya menyerap energi matahari pada siang hari, sementara turbin angin bertipe helix Savonius menjadi bagian dari sumber energi pelengkap. Turbin berbentuk spiral itu dirancang mampu berputar meski hanya mendapat hembusan angin ringan.
Keunggulan lain PV-Wind Turbin terletak pada penggunaan sistem penjejak matahari cerdas atau solar tracker. Teknologi ini memungkinkan panel bergerak otomatis mengikuti pergerakan matahari sehingga penyerapan energi dapat dioptimalkan.
Sistem tersebut juga dirancang untuk mendeteksi perubahan kondisi cuaca secara otomatis.
“Ketika langit mendadak mendung atau tertutup awan tebal, alat ini akan langsung mengalihkan mode deteksinya menggunakan jalur perhitungan astronomi,” ujar Guru Besar ke-257 ITS ini.
Ketika kondisi cuaca berubah, sistem kendali berbasis kecerdasan buatan dapat mengalihkan metode pendeteksian menggunakan perhitungan astronomi. Dengan mekanisme tersebut, panel tetap diarahkan mengikuti trajektori matahari.
“Ketika kondisi mendung, kendali cerdas akan secara otomatis mengalihkan sistem ke soft sensor berbasis perhitungan astronomi agar panel surya tetap bergerak pada posisi ideal,” jelasnya.
Efisiensi Listrik Capai 25,12 Persen
Berdasarkan serangkaian pengujian di lapangan yang disampaikan Prof Imam, sistem cerdas tersebut mampu meningkatkan efisiensi listrik hingga 25,12 persen dibandingkan panel surya konvensional.
“Melalui serangkaian pengujian di lapangan, sistem cerdas ini membuktikan ketangguhannya dengan mendongkrak efisiensi listrik hingga 25,12 persen dibandingkan panel surya konvensional,” tambahnya.
Capaian tersebut menjadi bagian dari pengembangan teknologi energi terbarukan yang memadukan sumber energi matahari dan angin dengan sistem kendali otomatis.
Ditargetkan Jadi Stasiun Pengisian Daya Mandiri
Ke depan, mantan Direktur Kemahasiswaan ITS tersebut berharap PV-Wind Turbin dapat dikembangkan menjadi stasiun pengisian daya mandiri gratis bagi masyarakat.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan teknologi energi terbarukan sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Bagi seorang peneliti, kebahagiaan tertinggi adalah ketika melihat hasil karya teknologi yang dikembangkan dapat dirasakan manfaatnya seluas-luasnya oleh masyarakat,” pungkasnya. (Red)





