JAKARTA | EnterKal — Harga emas kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah. Arus dana investor global mengalir ke aset safe haven, mendorong harga bertahan di level tinggi sekaligus memunculkan pertanyaan soal strategi investasi yang tepat di fase reli.
Analis Komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai lonjakan harga emas saat ini lebih banyak dipicu sentimen jangka pendek berupa eskalasi konflik geopolitik. Ketidakpastian durasi konflik membuat prospek emas masih ditopang faktor risiko global.
“Lonjakan emas saat ini murni dipicu sentimen geopolitik di Timur Tengah. Walaupun sifatnya sementara, belum bisa dipastikan akan berlangsung berapa lama, bahkan ada yang memperkirakan bisa cukup panjang,” ujar Lukman dikutip dari Kontan, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, dalam kondisi volatil seperti ini, investor sebaiknya menghindari pembelian sekaligus di satu level harga. Lukman merekomendasikan strategi dollar cost averaging atau akumulasi bertahap guna meminimalkan risiko membeli di harga puncak.
“Strategi yang paling sesuai adalah membeli emas secara bertahap di beberapa level harga. Pendekatan akumulasi ini membantu investor mengelola volatilitas harga,” jelasnya.
Profit Taking Tergantung Tujuan
Terkait aksi ambil untung, Lukman menegaskan keputusan tersebut sangat bergantung pada tujuan investasi masing-masing. Investor yang sebelumnya masuk pasar sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dinilai wajar merealisasikan sebagian keuntungan saat harga melonjak.
Namun, bagi investor dengan orientasi jangka panjang—misalnya untuk diversifikasi aset atau mengantisipasi risiko pelemahan mata uang fiat—aksi profit taking tidak selalu mendesak.
“Jika tujuan investasi bersifat fundamental, seperti diversifikasi cadangan aset atau kekhawatiran terhadap mata uang fiat, maka tidak perlu terburu-buru melakukan profit taking,” tambahnya.
Potensi Rekor Baru
Dari sisi proyeksi, Lukman melihat harga emas masih berpeluang melanjutkan kenaikan apabila tensi geopolitik semakin memanas dalam jangka pendek. Ia memperkirakan harga dapat kembali mencetak rekor di kisaran US$ 5.500–US$ 5.600 per ons jika konflik berkepanjangan.
Dalam horizon lebih panjang, emas bahkan dinilai berpotensi menembus US$ 6.000 atau lebih, seiring tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan lindung nilai.
Meski demikian, investor tetap diingatkan untuk disiplin pada strategi dan profil risiko masing-masing. Pergerakan emas saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, sehingga fluktuasi harga dapat terjadi secara cepat dan tajam. (Red)










