Palangka Raya | EnterKal – Asap pekat masih menyelimuti Jalan Petuk Katimpun, Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (13/8/2026) petang. Di tengah kondisi itu, para relawan pemadam kebakaran terus berjibaku memadamkan api di lahan gambut yang telah terbakar sekitar satu bulan.
Salah satu relawan, Rijalul Muttaqin (18), bahkan membawa bendera Merah Putih ke tengah lahan terbakar. Ia menaiki batang pohon yang hampir menjadi abu, lalu mengibarkan bendera tersebut di tengah kepungan asap.
Aksi itu dilakukan Rijalul untuk menyampaikan pesan bahwa di tengah euforia menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, Kalimantan Tengah masih menghadapi persoalan kabut asap akibat karhutla.
“Dalam rangka kan kita sudah mau (memperingati hari) kemerdekaan begitu. Terus tuh masa kabut asap nih, mudahan lekas pulih saja Palangka Raya nih,” ungkap Rijalul Muttaqin saat dibincangi awak media.
Karhutla Berlangsung Sekitar Sebulan
Rijalul mengatakan dirinya bersama rekan-rekan relawan telah terlibat dalam pemadaman sejak awal kebakaran di kawasan tersebut.
“Kayaknya satu bulanan yang lalu lah sudah,” ujar Rijalul saat menceritakan awal mula terjadinya kebakaran.
Menurut dia, kabut asap yang muncul dari kebakaran tersebut telah mengganggu aktivitas warga. Kondisi itu juga menjadi kekhawatiran bagi masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
“Sangat mengganggu ini asapnya. Olehnya kasihan juga yang punya penyakit ISPA segala, segala penyakit asma,” tutur pemuda yang baru lulus sekolah tersebut.
Di lapangan, relawan dari Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) swadaya dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus bersiaga menangani titik api.
Pemadaman tidak selalu dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Struktur tanah gambut membuat api masih dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul setelah permukaan terlihat padam.
“Sini biasanya piket malam. Ada sampai maksimal jam 11 malam. Ini masih aktif Bang, soalnya gambut bawahnya (jadi sewaktu-waktu api bisa muncul lagi),” jelasnya.
Minim Air Jadi Kendala Utama
Keterbatasan pasokan air menjadi salah satu kendala terbesar yang dihadapi relawan. Dalam pemadaman sehari-hari, sedikitnya 20 personel gabungan dari puluhan unit BPK dan MPA diterjunkan ke lokasi.
Relawan juga harus menghadapi medan lahan gambut yang berat, termasuk ketika sumber air tidak tersedia di sekitar titik api.
Amat (24), relawan lainnya, mengatakan timnya bahkan bertugas secara maraton selama empat hari berturut-turut untuk menangani titik api di kawasan Jalan Rafflesia Km 11.
“Kalau pemadaman itu yang utama kendalanya air. Soalnya kalau di tengah-tengah kan tidak ada air. Jadi kami harus bikin sumber bor darurat, menajak (menancapkan) pipa ke bawah tanah sampai 6 hingga 8 pipa,” ujarnya.
Keterbatasan air membuat proses pemadaman membutuhkan upaya tambahan agar sumber air dapat digunakan di lokasi yang sulit dijangkau.
Relawan Tumbang akibat Paparan Asap dan Kelelahan
Risiko kesehatan menjadi persoalan lain yang dihadapi para petugas di lapangan. Rijalul mengatakan sejumlah anggota BPK sempat tumbang dan harus menjalani perawatan.
“Kemarin tim kami ada yang pingsan satu pas di lapangan. BPK Amin Subur sama BPK Borneo Sektor nih sudah ada berdua kemarin. Pingsan dua orang,” katanya.
Relawan yang mengalami gangguan kesehatan tersebut harus menghentikan aktivitas pemadaman selama sekitar satu minggu untuk menjalani pemulihan.
“Sesak napas sama berlendir katanya kalau bernapas tuh. Kemarin tuh infusan orangnya, infusan sama jenis suntik untuk segala berobat,” lanjutnya.
Rijalul juga mengaku pernah mengalami kondisi serupa. Ia tidak dapat turun ke lapangan selama sekitar satu minggu setelah mengalami gangguan kesehatan.
“Saya kemarin sudah sakit juga, paru-paru. Semingguan enggak ke lapangan, suntik segala, infus segala,” kata Rijalul.
Amat mengatakan persoalan kesehatan juga dialami anggota tim BPK Borneo. Dari enam anggota tim lapangan, tiga di antaranya disebut sempat mengalami gangguan pernapasan hingga ada yang pingsan.
“Kekurangan kami di sini terutama masalah kesehatan, dari pernapasan seperti batuk dan sesak. Tim kami ada enam orang, dan tiga di antaranya sempat mengalami gangguan pernapasan hingga ada yang pingsan di lapangan,” ungkap Amat.
Ancaman Satwa Liar di Lahan Terbakar
Selain asap, api, dan medan gambut, relawan juga menghadapi risiko dari satwa liar yang berada di kawasan lahan kosong.
Amat menyebut petugas harus mewaspadai keberadaan tawon, ular, hingga kelabang ketika melakukan pemadaman.
“Bahkan ada satu rekan kami yang sempat digigit kelabang sampai kakinya bengkak dan belum bisa bertugas sampai sekarang,” tambahnya.
Di tengah kondisi tersebut, Rijalul mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap ancaman karhutla dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu munculnya titik api baru.
Bagi para relawan, pekerjaan pemadaman belum berhenti selama api dan bara masih berpotensi muncul kembali dari lapisan gambut. Kondisi itu membuat pemantauan dan pemadaman harus terus dilakukan, termasuk hingga malam hari. (Red)





