PALANGKA RAYA | EnterKal – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi menekan aktivitas ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Palangka Raya. Berkurangnya aktivitas masyarakat di luar rumah dinilai dapat memengaruhi penjualan, terutama bagi usaha yang mengandalkan transaksi harian.
Anggota Komisi II DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, mengatakan kondisi udara yang memburuk membuat sebagian masyarakat memilih membatasi kegiatan di luar rumah dan hanya bepergian untuk memenuhi kebutuhan penting.
“Dampaknya luar biasa, masyarakat enggan keluar rumah kalau tidak ada kepentingan atau keperluan mendesak,” ucapnya, Rabu (28/10/2026).
Aktivitas Warga dan Penjualan UMKM
Berkurangnya mobilitas masyarakat dapat menjadi tantangan bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM yang mengandalkan pembelian langsung. Namun, besarnya dampak terhadap penjualan masih memerlukan data dari pelaku usaha atau instansi terkait.
Khemal juga menyoroti tekanan biaya hidup yang dihadapi masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Menurut dia, kondisi tersebut dapat membatasi kemampuan belanja rumah tangga.
“Di sisi lain, masyarakat juga masih dihadapkan pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Situasi ini membuat pengeluaran rumah tangga semakin besar, sementara kemampuan belanja masyarakat cenderung terbatas,” tambahnya.
Biaya Produksi Naik, Daya Beli Terbatas
Tekanan ekonomi juga dirasakan pelaku UMKM yang menghadapi kenaikan harga bahan baku dan modal usaha. Dalam situasi tersebut, menaikkan harga jual bukan perkara mudah karena berisiko memengaruhi keputusan konsumen untuk membeli.
“Pelaku usaha tidak mudah menaikkan harga jual meskipun biaya produksi meningkat. Sebab, kenaikan harga berisiko membuat konsumen mengurangi pembelian,” lanjutnya.
Kondisi ini menempatkan pelaku usaha pada dua tekanan sekaligus: biaya operasional yang meningkat dan potensi penjualan yang melemah. Bagi usaha dengan modal terbatas dan perputaran uang harian, penurunan transaksi dapat memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan operasional.
Meski demikian, besaran penurunan penjualan, kenaikan biaya produksi, serta jumlah UMKM yang terdampak belum disertai data kuantitatif dalam keterangan tersebut.
Penanganan Karhutla Perlu Memperhatikan Dampak Ekonomi
Khemal menilai dampak karhutla perlu menjadi perhatian bersama. Selain penanganan kebakaran dan pemulihan kualitas udara, kondisi ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM yang bergantung pada aktivitas harian, juga perlu diperhatikan.
“Karena itu, dampak karhutla perlu menjadi perhatian bersama. Selain penanganan kebakaran dan upaya pemulihan kualitas udara, kondisi ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas harian, juga perlu diperhatikan,” ungkapnya.
Dampak ekonomi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati dalam penanganan karhutla. Data mengenai perubahan omzet, biaya bahan baku, dan kondisi perdagangan selama kabut asap dapat membantu pemerintah daerah memetakan kebutuhan pelaku UMKM serta menentukan langkah dukungan yang sesuai. (Vr)





