PALANGKA RAYA | EnterKal – Penurunan jumlah titik panas belum mengakhiri ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Hingga Minggu (30/8/2026) malam, sebanyak 946 hotspot high confidence masih terdeteksi secara nasional, sementara 60 lokasi karhutla masih dalam proses pemadaman.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan jumlah hotspot tersebut turun 629 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 455 titik, disusul Kalimantan Tengah 308 titik. Selanjutnya Sumatera Selatan 36 titik, Kalimantan Selatan 18 titik, Jambi satu titik, dan Riau nihil hotspot.
60 Lokasi Masih dalam Pemadaman
Meski indikator hotspot menurun, operasi lapangan masih berlangsung. Berdasarkan Laporan Ringkasan Operasi Dalkarhut per Minggu (30/8/2026) pukul 07.00 WIB, tercatat 93 laporan kejadian karhutla di 12 provinsi.
Dari jumlah tersebut, 33 lokasi dilaporkan telah padam, sedangkan 60 lokasi masih dalam proses pemadaman.
Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah lokasi karhutla yang masih ditangani terbanyak, yakni 21 lokasi. Berikutnya Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi sembilan lokasi, Riau delapan lokasi, dan Kalimantan Timur tujuh lokasi.
Penanganan juga berlangsung di Sulawesi Tenggara tiga lokasi, Sulawesi Selatan dua lokasi, serta masing-masing satu lokasi di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tengah.
Secara kumulatif sepanjang 2026, tercatat 4.801 kali operasi penanganan karhutla dengan luas areal yang ditangani mencapai 38.829,46 hektare.
52 Helikopter Dukung Operasi
Tim gabungan terus melakukan pemadaman darat, water bombing, patroli udara, ground check, serta kegiatan pencegahan dan pengendalian di wilayah prioritas.
Operasi melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait lainnya.
Dukungan operasi udara diperkuat dengan 30 helikopter di Kalimantan dan 22 helikopter di Sumatera untuk mendukung water bombing dan patroli udara.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk mendukung penanganan karhutla.
Asap Ganggu Jarak Pandang
Penurunan hotspot belum serta-merta menghilangkan dampak asap. Kondisi udara di sejumlah wilayah terdampak masih berada dalam kategori bervariasi, mulai dari Sedang hingga Tidak Sehat, Sangat Tidak Sehat, bahkan Berbahaya.
Gangguan asap juga terlihat pada jarak pandang di sejumlah bandara.
Berdasarkan pemantauan BMKG pada Senin (31/8/2026) pagi, Bandara Supadio, Pontianak, tercatat berasap dengan jarak pandang 1,3 kilometer pada pukul 08.00 WIB.
Di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, kondisi berasap tercatat dengan jarak pandang 1,5 kilometer pada pukul 08.00 WIB.
Di Sumatera, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, mencatat kondisi berasap dengan jarak pandang empat kilometer pada pukul 07.30 WIB. Bandara Sultan Thaha, Jambi, mencatat jarak pandang lima kilometer pada pukul 08.00 WIB.
Sementara itu, Bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin, tercatat berasap dengan jarak pandang tiga kilometer pada pukul 09.00 WITA.
Hotspot Bukan Selalu Kebakaran
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi titik panas berdasarkan penginderaan satelit dan tidak selalu berarti kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap membutuhkan verifikasi melalui pengecekan lapangan.
Kementerian Kehutanan menegaskan pemantauan dan operasi lapangan tetap diperkuat, terutama di wilayah yang masih memiliki kejadian kebakaran aktif serta daerah yang mulai mengalami gangguan asap dan penurunan jarak pandang.
Masyarakat di wilayah terdampak asap diminta mengikuti informasi resmi pemerintah dan BMKG, menjaga kesehatan, serta mengurangi aktivitas di luar ruang apabila kondisi udara memburuk.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap atau indikasi kebakaran, masyarakat dapat melaporkannya kepada Posko Karhutla Kementerian Kehutanan melalui 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Penanganan karhutla masih berlanjut meski jumlah hotspot nasional mengalami penurunan. Fokus operasi kini tetap diarahkan pada lokasi yang masih terbakar, pencegahan meluasnya api, serta pengendalian dampak asap terhadap masyarakat dan aktivitas publik. (Sum-Red)





